Ada pertanyaan yang sering muncul di benak banyak orang yang sudah memasuki usia mapan: “Uang saya sudah terkumpul. Tapi kalau hanya disimpan di tabungan, nilainya justru tergerus inflasi setiap tahun. Lalu, harus diapakan?”
Membeli properti residensial terasa berat karena harganya sudah melambung. Saham dan reksa dana butuh waktu dan keberanian tersendiri. Bisnis baru? Siapa yang mau repot memulai dari nol di usia ini?
Yang banyak orang cari sebenarnya sederhana: aset yang bekerja sendiri, menghasilkan pemasukan rutin, dan tidak memerlukan keterlibatan harian. Itulah yang disebut aset produktif — dan kini ada cara yang lebih mudah dari sebelumnya untuk memilikinya.
Mengapa Aset Produktif Lebih Relevan di Usia 40-an ke Atas
Di usia 40-an hingga 50-an, prioritas finansial seseorang biasanya bergeser. Bukan lagi mengejar pertumbuhan agresif jangka pendek, melainkan membangun arus kas yang stabil — penghasilan yang datang secara berkala tanpa harus menukar waktu dan tenaga setiap harinya.
Konsep ini bukan hal baru. Para pemikir finansial sejak lama membedakan antara aset aktif (yang membutuhkan kehadiran Anda) dan aset pasif (yang bekerja untuk Anda). Namun tantangannya selama ini adalah: aset pasif yang benar-benar menghasilkan umumnya membutuhkan modal besar, jaringan luas, atau keahlian teknis tertentu.
Kondisi itulah yang kini mulai berubah.
Peternakan sebagai Aset — Sebuah Cara Pandang yang Berbeda
Ketika mendengar kata “peternakan”, kebanyakan orang membayangkan kerja fisik, kandang yang perlu dibersihkan, dan rutinitas memberi pakan setiap pagi. Wajar jika gambaran itu terasa jauh dari konsep investasi.
Namun ada model yang berbeda: kepemilikan unit peternakan secara legal, di mana Anda memegang hak atas aset tersebut, sementara seluruh operasional dikelola oleh tim profesional. Hasilnya — dalam bentuk bagi hasil dari penjualan telur atau produk ternak lainnya — diteruskan kepada Anda secara berkala.
Model ini sebenarnya sudah lama diterapkan di sektor properti komersial: Anda membeli unit ruko atau kios, menyewakannya, dan menerima penghasilan sewa tanpa harus menjadi pengelola. Prinsipnya serupa, hanya diterapkan pada sektor pangan yang memiliki permintaan konstan.
Permintaan terhadap telur, misalnya, tidak mengenal musim. Tidak terpengaruh tren. Tidak bergantung pada sentimen pasar modal. Setiap hari, kebutuhan itu ada — dan di situlah letak nilai stabilnya.
Pring Land: Ekosistem Peternakan untuk Investor, Bukan untuk Peternak
Pring Land adalah pengembang yang membangun ekosistem kepemilikan unit peternakan di beberapa lokasi strategis. Sejak pertama kali beroperasi di Yogyakarta, konsep ini telah diterima oleh lebih dari 87 investor yang menerima laporan dan bagi hasil secara rutin.
Yang membedakan Pring Land dari sekadar skema investasi biasa adalah adanya kepemilikan aset secara nyata. Investor memegang Sertifikat Hak Milik (SHM) atas unit yang dimiliki — bukan sekadar kontrak kerjasama. Ini berarti aset Anda tercatat secara hukum, bisa diwariskan, dan nilainya berpotensi tumbuh seiring waktu.
Bagaimana Sistem Kerjanya?
Setiap unit memiliki luas tanah 33 m² dengan bangunan kandang seluas 24 m², dirancang untuk menampung 150 ekor ayam petelur. Seluruh operasional — mulai dari pengadaan pakan, perawatan hewan, hingga pemasaran hasil panen — ditangani oleh tim manajemen Pring Land.
Pemantauan dilakukan melalui CCTV yang bisa diakses investor, disertai laporan keuangan berkala. Tidak ada yang disembunyikan. Transparansi adalah fondasi kepercayaan yang mereka bangun sejak hari pertama.
Skema bagi hasil yang berlaku adalah 70% untuk investor, 30% untuk manajemen. Porsi ini mencerminkan bahwa pemilik modal mendapatkan porsi terbesar dari hasil operasional, sementara pengelola mendapatkan bagian yang sepadan dengan kerja dan tanggung jawab yang mereka emban.
Lokasi-Lokasi yang Sudah Beroperasi
Pring Land saat ini hadir di beberapa lokasi yang dipilih secara cermat berdasarkan potensi agraris, aksesibilitas, dan prospek jangka panjang.
Yogyakarta — Pionir Ekosistem Pring Land
Yogyakarta adalah tempat semuanya bermula. Di lereng Merapi yang subur dan dikelilingi kebun salak Turi serta perbukitan Patuk, empat proyek Pring Land beroperasi dengan lingkungan yang mendukung produktivitas ternak secara alami.
Jogja I – Turi: Menghadirkan 51 unit ayam petelur dan 36 unit bebek petelur di kawasan yang tenang dan hijau.
Jogja III – Patuk: Berlokasi dekat Heha Sky View, kawasan wisata yang terus berkembang. Dengan total 169 unit, ini adalah proyek dengan kapasitas terbesar di Yogyakarta. Kehadiran kawasan wisata di sekitarnya menjadi nilai tambah tersendiri bagi potensi pertumbuhan aset.
Bogor — Ekspansi ke Jawa Barat
Berlokasi di Jl. Raya Prasasti, Karyasari, Bogor, proyek ini adalah yang paling beragam dengan tiga jenis ternak: 296 unit ayam petelur, 136 unit bebek petelur, dan 119 unit ayam pedaging. Diversifikasi ini memberikan stabilitas pendapatan yang lebih baik karena tidak bergantung hanya pada satu komoditas.
Rincian Investasi yang Perlu Diketahui
Untuk calon investor yang ingin memahami angkanya secara langsung, berikut gambaran umum yang berlaku pada proyek-proyek Pring Land:
Harga mulai dari Rp 99 juta per unit, dengan uang muka awal Rp 5 juta untuk memulai proses akad. Estimasi bagi hasil bulanan berkisar di angka Rp 1.400.000 per bulan setelah unit beroperasi penuh.
Selama masa pembangunan (sebelum unit beroperasi), tersedia rental garansi mulai bulan keempat setelah akad sebesar Rp 600.000 per bulan, yang berlanjut selama 12 bulan. Ini artinya Anda tidak perlu menunggu terlalu lama sebelum aset mulai memberikan hasil.
Yang tidak kalah penting: SHM diterbitkan secara gratis tanpa biaya akad tambahan, dan tersedia garansi buyback — jaminan bahwa jika suatu saat Anda ingin menjual kembali unit tersebut, ada mekanisme resmi yang melindungi kepentingan Anda.
Untuk Siapa Model Kepemilikan Ini Paling Sesuai?
Tidak ada investasi yang cocok untuk semua orang. Namun model kepemilikan unit peternakan seperti ini secara khusus relevan bagi mereka yang:
Memiliki dana yang sudah terkumpul dan ingin dialokasikan ke aset nyata — bukan sekadar rekening atau instrumen finansial abstrak. Menginginkan penghasilan rutin bulanan sebagai tambahan pemasukan tanpa harus aktif bekerja di dalamnya. Tertarik pada sektor pangan yang permintaannya bersifat fundamental dan tidak bergantung pada kondisi ekonomi tertentu. Ingin meninggalkan sesuatu yang bermakna — bukan hanya nominal di rekening, tapi aset berwujud yang bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.
Lebih dari 87 investor yang sudah bergabung berasal dari berbagai latar belakang: pensiunan, profesional aktif, pengusaha, hingga mereka yang ingin mulai mempersiapkan masa pensiun dengan lebih terencana.
Transparansi sebagai Standar, Bukan Bonus
Salah satu kekhawatiran wajar dalam setiap bentuk investasi adalah: “Bagaimana saya tahu uang saya dikelola dengan benar?”
Pring Land menjawab ini dengan dua hal: pertama, kepemilikan aset fisik yang terdokumentasi secara hukum (SHM). Kedua, sistem pelaporan berkala yang disertai akses CCTV ke kandang yang Anda miliki. Anda bisa memantau kondisi ternak secara langsung, kapan pun Anda mau.
Ini bukan klaim semata — ini adalah struktur yang memang dibangun dari awal agar investor bisa merasa tenang, bukan hanya percaya secara buta.
Langkah Selanjutnya
Jika apa yang Anda baca di sini terasa relevan dengan situasi dan tujuan finansial Anda, langkah paling logis adalah menggali informasi lebih dalam sebelum mengambil keputusan.
Pring Land menyediakan informasi lengkap mengenai seluruh proyek yang tersedia, termasuk detail lokasi, spesifikasi unit, proyeksi hasil, dan prosedur akad. Anda bisa melihat semuanya, membandingkan pilihan, dan berdiskusi langsung dengan tim mereka — tanpa tekanan, tanpa tenggat waktu buatan.
Aset yang baik tidak perlu dijual dengan buru-buru. Ia cukup dipahami dengan benar.
Lihat Detail Unit & Proyek Tersedia →
Informasi lengkap, tanpa biaya konsultasi.


